Sabtu, 28 Juni 2014

Classical Conditioning



Classical Conditioning
                       
   Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan America Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di samping Freud.
Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
            Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
            Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Percobaan Pavlov mengenai fungsinya kelenjar ludah pada anjing merupakan contoh klasik bagaimana perilaku tertentu dapat dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi lingkungan. Proses pembentukan perilaku semacam itu di sebut proses pensyaratan (Conditioning prosess). Air liur anjing yang secara alami banyak hanya keluar apabila ada makanan, pada akhirnya dengan proses pensyaratan air liur dapat keluar sekalipun tidak ada makanan.
Berikut ini adalah percobaan Pavlov beserta dengan langkah-langkahnya :
Pertama anjing disajikan tepung daging (US), menimbulkan respon anjing berupa air liur (UR). Pada situasi lain disajikan cahaya lampu (CS), ternyata tidak menghasilkan respon keluarnya air liur, alih-alih anjing hanya memperhatikan lampu. Hal ini merupakan keadaan prabelajar. Selanjutnya tepung daging disajikan hampir bersamaan dengan cahaya lampu secara berulangan-ulang (US + CS yang menghasilkan UR + CR). Inipun merupakan proses pembelajarannya.
1. US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral: Stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur.
2. UR (unconditioned respons): disebut perilaku responden (respondent behavior) respon tak bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, yaitu air liur anjing keluar karen anjing melihat daging.
3. CS (conditioning stimulus): stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-menerus agar menimbulkan respon. Misalnya bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
4. CR (conditioning respons): respons bersyarat, yaitu rerspon yang muncul dengan hadirnya CS, Misalnya: air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.

Pada akhirnya anjing mengeluarkan air liur (UR) ketika disajikan cahaya (CS) sekalipun tidak diikuti penyajian tepung daging. Keluarnya air liur sebagai respon terhadap stimulus cahaya ini di sebut perilaku hasil belajar atau hasil pengkondisian. Apabila ada dua hal yang prosedural yang harus dipenuhi dalam percobaan ini yaitu : (1) penyajian CS itu segera diikuti oleh US, dan
(2) hal yang demikian itu dilakukan berulang-ulang sampai CR terbentuk.
Dalam percobaan yang lain cahaya itu diganti dengan bunyi bel sebelum diberikan makanan kepada anjing dibunyikan bel, setelah hal yang demikian itu diulang-ulang secukupnya, maka dengan mendengar bunyi bel saja anjing telah mengeluarkan air liur.
Percobaan selanjutnya dilakukan untuk mengetahui apakah respon bersyarat yang telah terbentuk itu dapat dihilangkan. Prosedurnya, perangsang bersyarat yang telah menimbulkan respon bersyarat disajikan berulang-ulang tanpa diikuti perangsang tak bersyarat. Mula-mula anjing mengeluarkan air liur, lama kelamaan dia tidak lagi mengeluarkan air liur, sekalipun menyaksikan perangsang bersyarat.
Kesimpulannya, dalam percobaan-percobaan ini anjing belajar bahwa cahaya lampu ataupun bunyi bel itu mula-mula sebagai datangnya makanan (pembentukan CR), kemudian ia belajar bahwa cahaya lampu atau bunyi bel sebagai pertanda tidak ada makanan (penghilang CR).

 Prinsip Classical Conditioning

1)      Penguasaan (akuisisi)
Penguasaan atau bagaimana organisme mempelajari sesuatu respon atau respon baru berlaku beberapa tingkatan. Juga semakin sering organisme itu mencoba, lebih kuat penguasaan berlaku.

 Stimulus Classical Conditioning

1)       Generalisasi (generalitation)
Dalam eksperimennya, Pavlov juga telah menggunakan lonceng yang berbeda nada, tetapi anjing itu masih mengeluarkan air liur. Ini menunjukkan bahwa sesuatu organisme yang telah terlazim dengan dikemukakan sesuatu rangsangan tak terlazim (RTT seperti lonceng) juga akan menghasilkan respon terlazim (GT = keluar air liur) walau pun rangsangan itu berbeda atau hampir sama (yaitu, nada lonceng yang berbeda). Dengan kata lain, organisme itu dapat membuat generalisasi bahwa suara yang berbeda atau hampir sama mungkin diikuti dengan respon (makanan).
2)      Diskriminasi (Discrimination)
Pavlov juga mendapati bahwa apabila dia mengubah nada lonceng, anjing itu masih mengeluarkan air liur. Bila nada lonceng itu jauh berbeda dari lonceng yang asli, anjing tersebut tidak mengeluarkan air liur. Ini menunjukkan bahwa organisme tersebut dapat membedakan atau mendikriminasi antara rangsangan yang dikemukakan dan memilih untuk tidak bertindak atau bergerak balas. Yaitu, sesuatu organisme mampu untuk bergerak balas ke sesuatu rangsangan tetapi tidak ke rangsangan yang lain.

3)    Penghapusan (Extinction)
Jika sesuatu rangsangan terlazim (lonceng) tidak diikuti dengan rangsangan tak terlazim (makanan), lama kelamaan organisme itu tidak akan melakukan respon.

MODELING (Pemodelan / Teori peniruan)


Pemodelan / Teori peniruan
( Belajar dengan menonton orang lain )



Albert Bandura adalah salah satu pendukung kontemporer yang paling berpengaruh dari pandangan kognitif pembelajaran

Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial ( Social Learning Teory ) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi

Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. salah satu kontribusi paling penting adalah untuk menekankan bahwa orang belajar tidak hanya melalui pengkondisian klasik dan operan tetapi juga dengan mengamati perilaku orang lain

Selain mempengaruhi pelajar secara langsung, konsekuensi kontingen perilaku bisa juga mempengaruhi siapa saja yang kebetulan menonton orang melakukan perilaku dan mengalami konsekuensi (Bandura, 1969, 1986)

Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Vicarious reinforcement kita tidak memiliki kemungkinan yang sama untuk meniru semua perilaku semua model, namun. kita jauh lebih mungkin untuk meniru model yang perilakunya diperkuat (penguatan vikarius), daripada ketika kita melihat perilaku menghukum dalam model tersebut (hukuman vikarius) vicarius punishment. dengan tidak adanya pengetahuan langsung dari penguatan vicarious dan hukuman, kita lebih cenderung untuk meniru perilaku model yang statusnya tinggi , menarik, menyenangkan, dan sukses, mungkin karena kita menganggap perilaku mereka sering menjadi penguatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perdebatan telah berpusat pada jenis model yang disajikan kepada anak-anak di tv. sayangnya, bukti eksperimental yang kuat nampaknya menegaskan ketakutan ini. tampak bahwa televisi yang mengajarkan anak-anak untuk memilih makanan manis, terlibat dalam meniru peran seks, dan mungkin yang paling mengkhawatirkan, melakukan kekerasan.



Ciri – ciri teori Pemodelan Bandura

*Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan

*Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain – lain

*Pelajar meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang didemonstrasikan guru sebagai model







Eksperimen Albert Bandura

Bandura percaya bahwa proses kognitif juga mempengaruhi Observastional Learning atau jika kita hanya belajar dengan cara trial-and-error, maka belajar menjadi sesuatu yang sangat sulit dan memakan waktu lama. Salah satu kontribusi yang sangat penting dari Albert bandura adalah menekankan bahwa manusia belajar tidak hanya dengan classical dan operant conditioning, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang lain. Yang mana teori tersebut disebutnya dengan peniruan atau modeling.

Untuk mengatahui seberapa jauh kebenaran teorinya tersebut, Albert Bnadura melakukan penelitian pada dua orang anak untuk mengetahui keagresifan atau rasa ketakutan mereka. Dia menempatkan kedua anak tersebut di laboratoriumnya dengan kondisi yang sama dan perlakuan yang berbeda, kemudian memperbandingkan proses belajarnya dengan menggunakan tontonan film. Percobaan tersebut sering dikenal sebagai percobaan dengan boneka bobo doll. Bandura memposisikan anak pertama pada satu ruangan yang telah tersedia satu buah boneka besar yang telah diikat oleh Bandura.

Begitu juga dengan anak yang kedua ditempatkan pada ruangan dengan kondisi yang sama. Kemudian anak pertama diberikan tontonan film action(film laga), sedangkan anak yang kedua tidak diberi tontonan film action tsb. Setelah perlakuan tersebut, kedua anak itu dibiarkan berada pada ruangannya masing – masing dengan boneka yang telah disiapkan sebelumnya.

Sesaat kemudian, anak yang pertama menirukan segala perilaku atau tindakan yang ada pada film yang telah ia tonton sebelumnya. Sedangkan anak yang kedua, hanya diam dan memperhatikan boneka yang ada dihadapannya tanpa melakukan hal – hal yang bersifat action seperti pada anak yang pertama. Boleh dikatakan bahwa anak yang pertama lebih agresif dibandingkan anak yang kedua. Pola belajar yang dilakukan oleh anak tersebut disebut dengan modeling (peniruan). Dimana terlihat jelas bahwa anak yang pertama meniru segala gerakan atau aksi yang dilakukan oleh pemain – pemain film action yang ia tonton dan kemudian ia terapkan kepada boneka bobo doll yang ada dihadapannya. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai cara belajar dengan modeling.


1. Peniruan Langsung

Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran social Albert Bandura. Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modeling, yaitu suatu fase dimana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu ketrampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh: Meniru gaya penyanyi yang disukai.

2. Peniruan Tak Langsung

Peniruan Tak Langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak langsung. Contoh: Meniru watak yang dibaca dalam buku, memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya.

3. Peniruan Gabungan

Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh: Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai daripada buku yang dibacanya.

4. Peniruan Sesaat / seketika.

Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja. Contoh: Meniru Gaya Pakaian di TV, tetapi tidak boleh dipakai di sekolah.

5. Peniruan Berkelanjutan

Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun. Contoh: Pelajar meniru gaya bahasa gurunya.


Jumat, 27 Juni 2014

Perceraian Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja



REVIEW JURNAL

 Abstrak
Perceraian yang dilakukan orang tua untuk mengakhiri hubungan sangat berakibat buruk pada mental anak, anak–anak hasil perceraian mengalami trauma, memperlihatkan gejala–gejala depresi ringan dan anti sosial dan juga berpengaruh pada cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pentingnya penyesuaian diri ini, ketika remaja berada dalam situasi dan lingkungan yang baru demi terciptanya hubungan yang baik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penyesuaian diri remaja terhadap lingkungannya dan dampak psikologis apa yang akan dialami anak yang orang tuanya bercerai.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif yaitu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan atau melukiskan objek yang akan diteliti berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Sedangkan subjek penelitian ini adalah 4 anak remaja dengan kategori usia 16 hingga 18 tahun dan 6 orang informan terdiri dari orang tua, guru serta teman sebaya.
Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa subjek mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan karena subjek mampu menerima kenyataan dan mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi dengan control emosi yang baik, percaya diri, terbuka, memiliki tujuan, dan bertanggung jawab juga dapat menjalin hubungan dengan cara yang berkualitas.
a
Masa remaja adalah masa yang sangat rawan oleh pengaruh-pengaruh negatif dan juga dimasa ini remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga masih mudah dipengaruhi. Dimasa ini adalah masa dimana seseorang mencari identitas dirinya, mencari jati dirinya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kegagalan dalam penyesuaian diri anak remaja yang menjadi korban perceraian orangtua menyebabkan remaja mendapat kesulitan dalam menyesuaikan dirinya pada suatu kondisi yang baru, akhirnya di dalam dirinya timbul perasaan kegelisahaan, sedih, marah dan konflik bathin yang hal ini termanifestasi dalam bentuk perbuatanya seperti tidak dapat memusatkan perhatian, kurang semangat disebabkan oleh perceraian orang tua. Peristiwa ini dapat mengganggu kehidupannya, maka ia takut menjalin persahabatan, takut berusaha keras di sekolah, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam belajar yang mempengaruhi prestasinya di sekolah.
Perceraian orang tua sangatlah mempengaruhi perkembangan anak seperti teori bronfrenbrenner tentang sistem kontekstual yang ke lima yaitu Kronosistem yang menambahkan dimensi waktu , salah satu co ntohnya adalah perubahan dalam komposisi keluarga, disini sesuai pembahasan perubahan dalam komposisi keluarganya berupa perceraian orang tua.
Namun , menurut bronfenbrenner , seseorang bukanlah semata-mata hasil dari perkembangan. Manusia memberi dampak pada perkembangannya sendiri melalui karakteristik biologis dan psikologis, bakat dan keterampilan, kecacatan serta temperamen. Maka dari itu remaja tersebut juga masih bisa mengontrol perkembangannya, dan menyesuaikan dirinya apakah dia bisa melewati masa ini dengan baik, atau malah terjerumus kedalam pengaruh-pengaruh negatif. Tetapi meskipun begitu, bagaimana reaksi anak terhadap perceraian orang tuanya , sangat dipengaruhi oleh cara orang tua berperilaku, senelum, selama, dan sesudah perceraian. Anak akan membutuhkan dukungan, kepekaan, dan kasih sayang yang lebih besar untuk membantunya mengatasi kehilangan yang dialaminya selama masa sulit ini. Mereka mungkin akan menunjukkan kesulitan penyesuaian diri dalam bentuk masalah perilaku, kesulitan belajar, atau penarikan diri dari lingkungan sosial.
Dalam penelitian ini penu;is bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari penyesuaian diri anak remaja yang orangtuanya bercerai terhadap lingkungannya, baik lingkungan keluarga, maupun lingkungan sekolah, mengetahui dan mempelajari dampak psikologis apa yang akan dialami oleh anak yang sedang menyesuaikan diri dengan situasi perceraian orang tua.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yaitu :
1.Faktor Fisiologis , jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku. Faktor fisik juga sangat mempengaruhi penyesuaian diri. Seperti
sistem syaraf, kelenjar, dan otot .
2.Faktor Psikologis , faktor-faktor psikologis seperti pengalaman, hasil belajar, kebutuhan-kebutuhan, aktualisasi diri, frustasi, depresi, dan konflik yang dialami juga berpengaruh dalam penyesuaian diri.
3.Faktor Perkembangan dan kematangan, mempengaruhi setiap aspek kepribadian individu, seperti emosional, sosial, moral, kegamaan, dan intelektual.
4.Faktor Perkembangan dan kematangan, mempengaruhi setiap aspek kepribadian individu, seperti emosional, sosial, moral, kegamaan, dan intelektual.
5.Faktor Budaya dan agama, lingkungan budaya tempat tinggal dan tempat berinteraksi serta ajaran agama merupakan sumber nilai, norma, kepercayaan dan pola tingkah laku yang akan memberikan tuntunan bagi hidup dan akan menentukan pola penyesuaian dirinya.

Bentuk bentuk penyesuaian diri

Ada dua bentuk penyesuaian diri antara lain;
a.       Penyesuaian diri yang positif 
Orang yang mampu menyesuaikan diri yang positif berarti maumpu mengendalikan emosi, sikap serta perilakunya dalam menghadapi setiap persoalan yang ada, dan dapat mengabil inti atau hikmah dari setiap kejadian yang ada.
b.      Penyesuaian diri yang negatif
Orang dengan penyesuaian diri yang negatif berarti tidak mampu mengontrol dirinya secara baik, tidak mampu mengendalikan sikap, tindakan dan emosinya , serta tidak bisa menyelesaikan dengan baik setiap persoalan yang ada.



Perceraian

Perceraian merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Menurut Holmes dan Rahe, perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup.
 
Pada umumnya orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian tersebut dibandingkan anak-anak mereka. Hal tersebut karena sebelum mereka bercerai biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik. Tidak demikian halnya dengan anak, mereka tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja Papa tidak lagi pulang ke rumah atau Mama pergi dari rumah atau tiba-tiba bersama Mama atau Papa pindah ke rumah baru. Hal yang mereka tahu sebelumnya mungkin hanyalah Mama dan Papa sering bertengkar, bahkan mungkin ada anak yang tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar karena orangtuanya benar-benar rapi menutupi ketegangan antara mereka berdua agar anak-anak tidak takut.

Dampak dari perceraian
Dampak dari perceraian bisa berupa;
a.       Traumatis pada salah satu pasangan hidup yang benar benar berjuang untuk menjalankan kehidupan pernikahan dengan sebaik-baiknya namun kenyataannya harus berakhir dalam perceraian, maka ia akan merasakan kesedihan, kekecewaan,frustasi, bahkan depresi.
b.      Traumatis pada anak, anak-anak dari orangtua yang bercerai pastinya merasakan banyak dampak negatif, terutama dalam perkembangan perspektif anak . seperti perubahan dalam komposisi keluarga yang membuat ketidakstabilan dalam dunia anak . ia akan merasa sangat tertekan dan mempunyai pandangan-pandangan buruk terhadap pernikahan.

Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan, dari masa anak-anal ke masa dewasa pada masa remaja juga terjadi banyak perubahan terutama perubahan psikologis baik rohaniah maupun jasmaniah. Masa ini adalah masa dimana orang tua harus benar benar ekstra mengawasi anaknya , karena masa ini merupakan masa yang sangat rawan oleh pengaruh pengaruh negatif.

Ciri-ciri masa remaja
            Menurut Hurlock (1999:22), masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya yaitu :
1. Masa remaja sebagai periode yang penting, remaja mengalami perkembangan fisik dan mental yang cepat dan penting.
2. Masa remaja sebagai periode peralihan, perpindahan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya
3. Masa remaja sebagai periode perubahan, perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah, masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
Pencarian identitas dimulai pada akhir masa kanak-kanak, penyesuaian diri dengan standar kelompok lebih panjang daripada bersikap individualistis. Penyesuaian diri dengan kelompok remaja awal masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan, namun lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dengan kata lain ingin menjadi pribadi yang berbeda dari orang lain.
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan. Anggapan strereotype budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku
merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi.
7. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa, remaja mulai memutuskan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa.

Pembahasan
Di dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif
yaitu penelitian yang berusaha untuk mengambarkan atau melukiskan objek yang akan diteliti berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Penelitian yang datanya dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. (Moleong, 2007;8). Subjek penelitian ini adalah anak remaja yang orang tuanya bercerai dengan rentang usia 16 hingga 18 tahun, dan informan dalam penelitian ini terdiri dari orang tua, guru dan teman sebaya subjek. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 10 orang, 4 orang merupakan subjek remaja dan 6 informan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, observasi, wawancara, dokumentasi.
            Bedasarkan hasil penelitian menurut jurnal ini sebagian besar subjek mampu menyesuaikan diri pada lingkungannya, baik lingkungan tempat tinggal subjek maupun lingkungan sekolah, hal ini ditandai dengan mampunya subjek mengontrol emosi, tindakan serta perilakunya dalam setiap situasi.
            Berbeda halnya dari pernyataan subjek RA bahwa dia tidak mampu menerima kenyataan dirinya dengan permasalahan yang terjadi pada orang tua, kurangnya percaya diri dalam mengungkapkan pendapat dan merasa malu mengakibatkan subjek sulit bergaul dengan orang lain, ketidakmampuan mengendalikan emosi ketika melampiaskan amarah membuat subjek mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan keadaan dan lingkungan sekitarnya Fatimah (2006:195), juga menjelaskan anak dengan penyesuaian diri yang negatif, tidak mampu mengarahkan dan mengatur dorongan-dorongan dalam pikiran, kebiasaan, emosi, sikap dan perilakunya dalam menghadapi tuntutan dirinya dan masyarakat, serta tidak mampu menemukan manfaat dari situasi baru dalam memenuhi segala kebutuhan secara sempurna dan wajar.
            Menurut pendapat Konopka (dalam Agustiani 2006:54), Usia 16-18 tahun adalah masa yang ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru. Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan implulsivitas dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai. selaras dengan pernyataan Subjek DS yang mampu menerima kenyataan dengan keadaan orang tua yang telah bercerai dan tidak membuatnya putus asa dalam menjalani kehidupan kedepan karena subjek memiliki harapan dan keinginan untuk membuat orang tua bangga dengan keberhasilan yang dia raih nanti.
            Berdasarkan hasil dari keseluruhan subjek penelitian sebagian besar subjek yang orang tuanya becerai tiga dari empat subjek mampu menerima kenyataan yang terjadi, mengubah pandangaan terhadap relaitas untuk memiliki tujuan hidup kedepan membuat subjek mampu menerima keadaan yang terjadi pada dirinya bahwasanya perceraian yang terjadi pada orang tua merupakan jalan hidup bagi diri dan orang tuanya. Namun hal ini berbeda pada subjek RA satu dari keempat subjek penelitian ini, tidak mampu menyesuaikan diri pada lingkungan karena subjek belum mampu menerima keadaan yang terjadi pada dirinya dengan masalah bahwa orang tuanya telah bercerai, dan tidak dapat megendalikan emosi dengan baik serta mengalami kesulitan dalam bergaul karena malu pada teman jika mengetahui orang tuanya bercerai. Hal ini bisa berbeda karena dipicu dengan faktor pengalaman yang berbeda dari tiap masing-masing anak dalam menjalani permasalahan yang terjadi. Rentang waktu perceraian yang dilakukan oleh orang tua dianggap mampu mempengaruhi penyesuain diri anak.
            Demikian review dari jurnal ini , intinya perceraian dan penyesuaian diri anak dapat diatasi oleh orang tua maupun anak itu sendiri apabila kedua pihak bisa mengatasi permasalahan yang terjadi dengan positif, baik sikap, emosi maupun prilaku.

Kreatifitas


  KREATIVITAS
Creative Problem Solving: Convergent and Divergent Thinking
Apa yang dimaksud dengan kreativitas?
Tidak ada definisi yang pasti mengenai kreativitas. Namun kita dapat mendefinisikannya dalam cakupan yang umum, yaitu kemampuan untuk menghasilkan suatu karya yang baru dan bernilai bagi orang-orang, semisal mainan, solusi untuk masalah sosial, puisi, sumber energi, ataupun nada-nada, dan bersifat berguna, memiliki nilai keindahan, informatif, dan lain-lain.
Convergent Thinking adalah cara berpikir berdasarkan fakta dan logika, serta fokus pada pemecahan masalah untuk mencari jawaban yang benar. Convergent thinking inilah yang sering ditekankan dalam dunia pendidikan, yang mana siswa harus memecahkan permasalah dengan menemukan jawaban yang paling “benar”. Sedangkan Divergent thinking adalah cara berpikir yang bebas aturan, tidak terlalu terarah, dan tidak biasa. Orang yang ahli berpikir secara divergen ini biasa disebut dengan kreatif karena ia mampu untuk berpikir diluar batas mental set.
Banyak orang yang berpikir bahwa kreativitas merupakan bagian dari inteligensi, tapi para ahli mempercayai bahwa kreativitas pada tingkat tertentu memiliki konsep yang terpisah dari inteligensi pada umumnya. Raaheim dan Kauffman (1972) memberikan bukti bahwa orang yang sukses memecahkan masalah baru memiliki cara yang berbeda dalam memecahkan masalahnya. Mereka berusaha mencari solusi terhadap permasalahannya terlebih dahulu sebelum menyerah.
Bagaimana proses berpikir kreatif?
Wallas (1926) menyatakan berpikir kreatif terjadi dalam empat tahap.Yang petama adalah persiapan, yang termasuk didalamnya upaya untuk merumuskan masalah, menarik fakta-fakta yang relevan, dan memikirkan solusi yang mungkin diterapkan.Yang kedua, inkubasi, periode untuk memberikan jeda yang bersifat sementara.Hal ini diperlukan untuk memberikan ruang berpikir sebelum melanjutkan ke tahap yang selanjutnya.Wallas mempercayai bahwa dengan memberikan waktu inkubasi ini dapat menambah kemampuan berpikir kreatif.Yang ketiga adalah pencerahan, yaitu wawasan yang muncul tiba-tiba yang berkaitan dengan solusi.Yang keempat adalah pembuktian.
Pemecahan masalah kreatif tidak begitu terlihat saat-saat ini, akan tetapi sejarah mencatat bahwa betapa banyak permasalahan-permasalahan yang sulit dapat dipecahkan secara kreatif dalam sekejap yang diperoleh dari periode persiapan dan inkubasi (Siegler, 2000). Contohnya adalah kisah Archimedes yang diberi tantangan olah rajanya untuk menentukan apakah mahkota sang raja terbuat dari emas asli atau bukan. Ia memikirkan solusinya begitu lama, tetapi saat ia memutuskan untuk istirahat dan mandi tiba-tiba ia menemukan solusinya dengan merendam mahkota raja kedalam bak mandinya. Apabila mahkota itu terbuat dari emas asli maka banyak air yang akan merembes keluar dari bak mandinya, apabila tidak maka hanya sedikit air yang akan merembes keluar.
Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menghasilkan suatu karya yang baru dan bernilai bagi orang-orang, semisal mainan, solusi untuk masalah sosial, puisi, sumber energi, ataupun nada-nada, dan bersifat berguna, memiliki nilai keindahan, informatif, Menurut Rogers faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas yaitu faktor intrinsik (dalam diri) dan faktor ekstrinsik (keamanan psikologi dan kebebasan psikologis). Kreativitas juga memiliki banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari diantaranya salah satu faktor kesuksesan suatu usaha, awal terjadinya inovasi dan perubahan, dan meningkatkan kualitas dan taraf hidup manusia.